Mengapa Mengulang Kebiasaan Buruk itu Mudah?

Mengapa Manusia Rentan Mengulangi Kesalahan yang Sama?


Kemalasan sebenarnya nama lain dari kebiasaan beristirahat sebelum kita lelah. -Jules Renard

 Kebiasaan merupakan awal dari tindakan berulang yang dilakukan dari waktu ke waktu sampai membentuk sebuah ingatan "prosedural" yang tidak kita sadari. Tindakan itu umumnya dipengaruhi oleh faktor yang berbeda bagi setiap orang. Oleh karena itu, tidak heran kalau kebiasaan satu orang dengan yang lainnya pun menjadi beragam. Ada yang memiliki kebiasaan baik, ada juga yang tidak menyadari sedang menjalankan kebiasaan buruk.

Seseorang dengan kebiasaan buruk, tidak selalu berarti adalah jahat. Terkadang, kebiasaan buruknya memang bisa menimbulkan kerugian bagi orang lain, tetapi yang lebih sering terjadi justru diri sendirilah yang sebenarnya merugi. Padahal semakin lama kebiasaan tersebut dijalanin, akan semakin kuat juga mengakar dalam alam bawah sadar kita. Itulah kenapa kebiasaan buruk wajib untuk diubah, meskipun kenyataannya mengubah kebiasaan buruk tidaklah sesuatu yang mudah.

Kebiasaan buruk biasanya lebih kuat dari yang diantisipasi. Bagaimana ini terjadi?

Setiap tindakan yang menetap menjadi kebiasaan tentunya melewati proses yang panjang. Artinya, ada kenyamanan atau kesenangan yang lahir dari setiap tindakan yang kita lakukan, sehingga tindakan itu bisa bertahan berulang-ulang dilakukan. Maka meskipun kita sudah tau ada dampak buruk yang akan diakibatkan, perasaan senang itu ibarat candu yang menarik kita untuk mengulanginya kembali.

Secara ilmiah, otak menciptakan senyawa kimia yang disebut dopamin. Senyawa ini akan dilepaskan ketika kita merasa bahagia. Kebahagiaan ini bersifat adiktif sehingga otak kita akan menciptakan perasaan yang sama terus menerus. Sementara sumber kesenangan yang instan akan mengarah pada kebiasaan buruk. Misalnya, dengan merokok stres menjadi berkurang atau dengan pergi ke clubbing mabuk sampai tidak sadarkan diri. Kebiasaan buruk yang menyenangkan ini kemudian akan berkembang lebih kuat.

dan ada juga, kebiasaan buruk umumnya juga minim upaya. Tidak perlu usaha yang sulit untuk melakukannya. Misalnya, kebiasaan menunda pekerjaan yang lebih gampang dipilih daripada berusaha on-time. bahkan menurut Loran Nordgren, seorang psikolog asal Amerika Serikat ini mengatakan bahwa manusia cenderung meremehkan kemampuan diri sendiri untuk berkata tidak pada godaan. Maka, Sudah tidak heran kalau kemudian membuat kita mudah tergoda untuk mengulangi kebiasaan itu lagi dan lagi. Meskipun tidak mudah, kebiasaan buruk masih bisa kita ubah. Butuh perjuangan untuk melawannya. Tidak cukup dengan niat. Kita butuh perencanaan dan pengalihan supaya tidak kembali berkubang dalam kebiasaan lama.

Ada lima pemicu yang biasanya mendorong kebiasaan buruk bertahan lebih lama, antara lain adalah lokasi, waktu, orang lain, kondisi emosional, dan tindakan sebelumnya. Misalnya, Kamu sangat stres ketika gagal, menjadi boros setelah kiriman orang tua datang, atau menjadi mudah marah ketika bersama seseorang. Untuk mengubah kebiasan buruk, awali dengan menuliskan daftar kebiasaan buruk Kamu lalu temukan sebabnya. Kamu bisa mencatat setiap melakukan kebiasaan buruk itu, dan perhatiin kesamaan situasi yang mungkin bisa terjadi. Dari situ, kamu bisa belajar mengenai hal yang menjadi sebabnya. Misalnya, Kamu bisa telat karena apa? Setelah beberapa kali melakukannya, Kamu jadi tau bahwa kebiasaan telat itu dipicu oleh kebiasaan bergadang. Setelah kita temukan sebabnya, Kita bisa meencanakan langkah selanjutnya.


Posting Komentar

0 Komentar